Telusuri Jejak Karhutla 2026, WALHI Desak Transparansi Pemilik Manfaat Korporasi

By Admin


Dok. WALHI

nusakini.com, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) resmi meluncurkan laporan bertajuk “Siapa di Balik Api?” pada Rabu (14/10/2026) di Jakarta. Kajian ini mengidentifikasi dugaan keterlibatan sejumlah aktor korporasi dan pemodal asing di balik tingginya titik panas pada konsesi kehutanan.

Berdasarkan analisis pemantauan satelit sepanjang Januari hingga Agustus 2026, terdapat 30 perusahaan yang terindikasi memiliki konsentrasi titik panas tertinggi. Entitas tersebut diklasifikasikan ke dalam 15 perusahaan perkebunan sawit dan 15 pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Laporan tersebut juga menyoroti dugaan afiliasi antara lima tokoh yang berdekatan dengan Presiden Prabowo Subianto dan beberapa perusahaan berisiko. Tokoh-tokoh yang disebut dalam kajian ini antara lain Setiawan Ichlas, Aburizal Bakrie, hingga Edhy Prabowo yang diduga terafiliasi dengan konsesi berlahan panas.

Selain itu, pemantauan spasial WALHI mendeteksi setidaknya 807 titik panas di area Proyek Strategis Nasional (PSN) Pangan dan Energi di Merauke. Sebagian dari titik api tersebut ditengarai berada di wilayah yang memiliki keterkaitan dengan kelompok usaha besar maupun program kementerian.

Koordinator Pengkampanye WALHI, Uli Arta Siagian, mendesak pemerintah agar segera mengevaluasi perizinan korporasi yang terindikasi bermasalah. "Presiden harus menjalankan komitmennya yang menyatakan bahwa akan menindaktegas apapun perusahaan yang terlibat dalam karhutla," kata Uli.

Lebih lanjut, WALHI mendorong aparat penegak hukum untuk membongkar struktur kepemilikan berlapis yang kerap melindungi pemilik manfaat akhir. "Selama pertanggungjawaban berhenti pada entitas operasional, aktor yang mengendalikan dan menikmati manfaat dari penguasaan lahan berisiko tetap luput dari penegakan hukum," tutup Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even Sembiring. (*)